Showing posts with label Bahasa Indonesia 2. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia 2. Show all posts

Bahasa Indonesia 2: Prosa Liris

Posted by Unknown Thursday, October 18, 2012 0 comments
A. Pengertian Prosa Liris

Prosa liris merupakan bentuk karya sastra yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif yang disajikan seperti bentuk puisi, namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa
B. Ciri-ciri prosa liris
1. Terdiri dari baris-baris seperti pada puisi
2. Tidak terikat oleh baris, bait serta rima dan irama
3. Dipengaruhi oleh siapa pengarangnya
4. Isinya mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari



RINDU KEBISUAN
Pujangga Pinggiran (sebuah Prosa Liris)
Oleh : Masril Habib
Dendang-dendang seperti membisu.
Sejauh perjalanan jiwa melukis kefanaan.
Semua yang terlihat, adalah beku dan mati.
Sendiri, dan berdiri dalam rajutan Yang Maha Perkasa,
Aku, seorang lelaki yang memiliki cinta.
Dan cerita dunia di bawah sengatan kesulitan dan kehendak.
Memiliki nasib yang tertulis dalam daun-daun layu,
ia adalah bagian semesta yang menjalar.
Di sini, menyebut nama tempat-tempat singgah.
CINTA
( Sebuah Prosa Liris).
Katakan kepada hidupku,
tentang cinta yang menyatukan langit dan bumi.
Katakanlah kepadaku, wahai kekasih.
Saat jiwamu kau pagari dengan kesucian.
Maka tak kan ada ruang bagi budak-budak cinta



Baca Selengkapnya ....

Bahasa Indonesia 2: sinopsis

Posted by Unknown 0 comments
The Tom and jarry Show
Disuatu kebun binatang kota ada seekor singa yang sedang mondar-mandir seperti kesakitan. Ketika petugas kebun binatang datang untuk memberinya makan, sang singa merintih kesakitan karena tangannya kanannya tertusuk duri kepada petugas itu, dan ia menyuruhnya memanggilkan dokter dengan segera. Langsung saja petugas itu menelvon dokter. Tak lama kemudian terdengar suara sirine ambulan lengkap dengan dokter tom dan asistennya jarry. Tanpa berlama-lama lagi dokter itu segera menangani sang singa. Dokter tom berusaha melepaskan duri dari tangan sang singa, tapi singa malah lari ke sana-kemari menjauhi dokter. Dokter tom pelan-pelan mencoba mendekati singa dan bertanya “mengapa kamu singa?” “aku takut tidak berani melihat kau mencabut duri ini dari tanganku!”, jawab si singa. “Baiklah kalau begitu akan aku tutup mata kamu agar kamu tidak ketakutan!”, dokter tom mencoba merayu singa. “Ya baiklah!”, jawab si singa.
Meskipun sudah ditutup matanya tapi singa tetap mengaku takut dengan dokter tom, dan ia malah lari memenjat pohon. Dokter tom dan asistennya Jarry mencari cara lain untuk menangani singa yang banyak rewel itu. Akhirnya dokter tom menyamar menjadi dokter wanita yang cantik jelita (sebagai singa betina) dan menghampiri sang singa yang sedang merintih kesakitan. Oh….singa lansung saja jatuh hati padanya, tanpa membuang-buang waktu lagi dokter tom yang sedang menyamar itu mendekati dan menggoda singa. “kenapa kamu menangis dan merintih kesakitan singa?”, Tanya si dokter tom yang sedang menyamar. “ow…tidak apa-apa duri ini bukan masalah bagiku ini tidak tertancap sungguhan, lihat saja akan aku cabut sendiri duri ini”, jawab si singa. Tanpa ragu-ragu dan rasa takut singa mencabut durinya karena ingin terlihat hebat dan tidak cengeng oleh dokter cantik. Diam-diam dokter cantik terkejut sekali karena singa itu ternyata hanya ingin mengerjainya. Rayuan singa semakin mengerikan saja hingga dokter tom tidak tahan dam merasa risih. Hingga akhirnya ia pun tak tahan lagi dan diam-diam lari meninggalkan singa. Dengan segera singa mengejarnya dan berusaha menghentikan dokter cantik ia berusaha meraih meraih ekor singa cantik itu hingga ia jatuh dan topeng yang ia gunakan untuk menyamar terjatuh. Wah…ketahuan juga akhirnya samaran dokter tom.
Anehnya si singa mulai mengerjai dokter tom lagi, ia mulai merintih kesakitan lagi di depan petugas kebun binatang. Dan meminta kepada petugas itu untuk melepaskan duri itu lagi (siasat singa agar tetap bisa menjahili dokter tom lagi). Lagi-lagi singa itu pura-pura takut dengan penanganan dokter tom lagi agar ia kesulitan menjalankan tugasnya didepan petugas kebun binatang. Dokter tom dan asistennya Jarry tidak kehabisan akal untuk meladeni singa itu. Tanpa sepengetahuan singa tom dan jarry bersembunyi dan merancang peta harta karun untuk menjebak singa. Diam-diam peta itu dilemparkan di depan singa, ia membuka isi peta itu dan ternyata ia tertarik dan penasaran untuk mengikuti peta itu (ditempat persembunyiannya tom dan jarry tertawa gembira karena singa masuk perangkap pertamanya).ia mulai berjalan mengikuti petunjuk peta itu. Sesuai dengan isi peta itu pertama ia berjalan menuju pohom mangga dekat kandangnya sambil mengangkat tangan kanannya, disana sudah ada jerry yang siap mencabut duri yang pura-pura ditancapkan oleh singa, tapi ternyata jerry gagal mencabutnya. Singa tetap berjalan menuju petunjuk tempat selanjutnya yaitu sebuah potongan batang pohon yang berlubang dan ia disarankan memasukan kedua tangannya di dalam lubang itu si jarry pun juga sudah siap mencabut durinya tapi lagi-lagi gagal juga, akhirnya dokter tom lah yang beraksi, singa tetap berjalan menuju tempat ke empat yaitu tembok yang berlubang kecil dan memasukan tangannya ke dalam tembok itu, di balik tembok sudah ada dokter tom yang siap mencabutnya ternyata ia pun juga gagal. Tinggal satu kesempatan lagi karena tempat yang ditunjukan dalam peta hanya ada empat tempat, tempat terakhir itu ialah sebuah kantong yang menurut peta itu adalah tempat harta karunnya yaitu debuah kantong kain yang di pasang dipapan singa menuju tempat itu dan separti tadi ia disarankan untuk memesukan tangan kanannya kedalam kantong itu, dokter tom sudah siap mencabut durinya dan kali ini ia berhasil mencabutnya.
Singa pun terkejut kagum dengan trik yang digunakan dokter tom untuk menangani pasiennya. Akhirnya singa memenggil seluruh penghuni kebun binatang yang bermasalah dengan kesehatannya agar berobat dengan dokter tom yang pandai.
Mengetahui hal itu dokter tom dan asistenya segera lari meninggalkan kebun binatang.
SEKIAN

Trans 7, 17:00 WIB, 31 Mei 2010




Baca Selengkapnya ....

Bahasa Indonesia 2: Perkembangan Sastra Indonesia

Posted by Unknown 0 comments
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
  • Angkatan Pujangga Lama
  • Angkatan Sastra Melayu Lama
  • Angkatan Balai Pustaka
  • Angkatan Pujangga Baru
  • Angkatan 1945
  • Angkatan 1950 - 1960-an
  • Angkatan 1966 - 1970-an
  • Angkatan 1980 - 1990-an
  • Angkatan Reformasi
  • Angkatan 2000-an
Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.

hasil karya:
Sejarah Melayu

Hikayat
  • Hikayat Abdullah
  • Hikayat Aceh
  • Hikayat Amir Hamzah
  • Hikayat Andaken Penurat
  • Hikayat Bayan Budiman
  • Hikayat Djahidin
  • Hikayat Hang Tuah
  • Hikayat Iskandar Zulkarnain
  • Hikayat Kadirun
  • Hikayat Kalila dan Damina
  • Hikayat Masydulhak
  • Hikayat Pandawa Jaya
  • Hikayat Pandja Tanderan
  • Hikayat Putri Djohar Manikam
  • Hikayat Sri Rama
  • Hikayat Tjendera Hasan
  • Tsahibul Hikayat

Syair:
  • Syair Bidasari
  • Syair Ken Tambuhan
  • Syair Raja Mambang Jauhari
  • Syair Raja Siak

Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya karya sastra melayu lama
  • Robinson Crusoe (terjemahan)
  • Lawan-lawan Merah
  • Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
  • Kapten Flamberger (terjemahan)
  • Rocambole (terjemahan)
  • Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
  • Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
  • Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
  • Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
  • Cerita Nyi Paina
  • Cerita Nyai Sarikem
  • Cerita Nyonya Kong Hong Nio
  • Nona Leonie
  • Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
  • Cerita Rossina
  • Nyai Isah oleh F. Wiggers
  • Drama Raden Bei Surioretno
  • Syair Java Bank Dirampok
  • Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
  • Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
  • Tambahsia
  • Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
  • Nyai Permana
  • Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
  • dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
Cinta dan Hawa Nafsu


Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)

Muhammad Yamin
Tanah Air (1922)
Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)

Djamaluddin Adinegoro
Darah Muda (1927)
Asmara Jaya (1928)

Abas Soetan Pamoentjak
Pertemuan (1927)

Abdul Muis
Salah Asuhan (1928)
Pertemuan Djodoh (1933)

Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
Sutan Takdir Alisjahbana
Dian Tak Kunjung Padam (1932)
Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
Layar Terkembang (1936)
Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
Hamka
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
Armijn Pane
Belenggu (1940)
Jiwa Berjiwa
Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
Sanusi Pane
Pancaran Cinta (1926)
Puspa Mega (1927)
Madah Kelana (1931)
Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
Kertajaya (1932)
Tengku Amir Hamzah
Nyanyi Sunyi (1937)
Begawat Gita (1933)
Setanggi Timur (1939)
Roestam Effendi
Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
Pertjikan Permenungan
Sariamin Ismail
Kalau Tak Untung (1933)
Pengaruh Keadaan (1937)
Anak Agung Pandji Tisna
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
Sukreni Gadis Bali (1936)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
J.E.Tatengkeng
Rindoe Dendam (1934)
Fatimah Hasan Delais
Kehilangan Mestika (1935)
Said Daeng Muntu
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)
Karim Halim
Palawija (1944)

Angkatan 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
Chairil Anwar
Kerikil Tajam (1949)
Deru Campur Debu (1949)
Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
Tiga Menguak Takdir (1950)
Idrus
Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
Aki (1949)
Perempuan dan Kebangsaan
Achdiat K. Mihardja
Atheis (1949)
Trisno Sumardjo
Katahati dan Perbuatan (1952)
Utuy Tatang Sontani
Suling (drama) (1948)
Tambera (1949)
Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
Suman Hs.
Kasih Ta' Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
Pramoedya Ananta Toer
Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
Bukan Pasar Malam (1951)
Di Tepi Kali Bekasi (1951)
Keluarga Gerilya (1951)
Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
Perburuan (1950)
Cerita dari Blora (1952)
Gadis Pantai (1965)
Nh. Dini
Dua Dunia (1950)
Hati jang Damai (1960)
Sitor Situmorang
Dalam Sadjak (1950)
Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
Mochtar Lubis
Tak Ada Esok (1950)
Jalan Tak Ada Ujung (1952)
Tanah Gersang (1964)
Si Djamal (1964)
Marius Ramis Dayoh
Putra Budiman (1951)
Pahlawan Minahasa (1957)
Ajip Rosidi
Tahun-tahun Kematian (1955)
Ditengah Keluarga (1956)
Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
Cari Muatan (1959)
Pertemuan Kembali (1961)
Ali Akbar Navis
Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Toto Sudarto Bachtiar
Etsa sajak-sajak (1956)
Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
Ramadhan K.H
Priangan si Jelita (1956)
W.S. Rendra
Balada Orang-orang Tercinta (1957)
Empat Kumpulan Sajak (1961)
Ia Sudah Bertualang (1963)
Subagio Sastrowardojo
Simphoni (1957)
Nugroho Notosusanto
Hujan Kepagian (1958)
Rasa Sajangé (1961)
Tiga Kota (1959)
Trisnojuwono
Angin Laut (1958)
Dimedan Perang (1962)
Laki-laki dan Mesiu (1951)
Toha Mochtar
Pulang (1958)
Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
Daerah Tak Bertuan (1963)
Purnawan Tjondronagaro
Mendarat Kembali (1962)
Bokor Hutasuhut
Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
Taufik Ismail
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Tirani dan Benteng
Buku Tamu Musim Perjuangan
Sajak Ladang Jagung
Kenalkan
Saya Hewan
Puisi-puisi Langit
Sutardji Calzoum Bachri
O
Amuk
Kapak
Abdul Hadi WM
Meditasi (1976)
Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
Tergantung Pada Angin (1977)
Sapardi Djoko Damono
Dukamu Abadi (1969)
Mata Pisau (1974)
Goenawan Mohamad
Parikesit (1969)
Interlude (1971)
Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
Seks, Sastra, dan Kita (1980)
Umar Kayam
Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Sri Sumarah dan Bawuk
Lebaran di Karet
Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
Kelir Tanpa Batas
Para Priyayi
Jalan Menikung
Danarto
Godlob
Adam Makrifat
Berhala
Nasjah Djamin
Hilanglah si Anak Hilang (1963)
Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
Putu Wijaya
Bila Malam Bertambah Malam (1971)
Telegram (1973)
Stasiun (1977)
Pabrik
Gres
Bom
Djamil Suherman
Perjalanan ke Akhirat (1962)
Manifestasi (1963)
Titis Basino
Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
Lesbian (1976)
Bukan Rumahku (1976)
Pelabuhan Hati (1978)
Pelabuhan Hati (1978)
Leon Agusta
Monumen Safari (1966)
Catatan Putih (1975)
Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
Hukla (1979)
Iwan Simatupang
Ziarah (1968)
Kering (1972)
Merahnya Merah (1968)
Keong (1975)
RT Nol/RW Nol
Tegak Lurus Dengan Langit
M.A Salmoen
Masa Bergolak (1968)
Parakitri Tahi Simbolon
Ibu (1969)
Chairul Harun
Warisan (1979)
Kuntowijoyo
Khotbah di Atas Bukit (1976)
M. Balfas
Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
Mahbub Djunaidi
Dari Hari ke Hari (1975)
Wildan Yatim
Pergolakan (1974)
Harijadi S. Hartowardojo
Perjanjian dengan Maut (1976)
Ismail Marahimin
Dan Perang Pun Usai (1979)
Wisran Hadi
Empat Orang Melayu
Jalan Lurus

Angkatan 1980 - 1990an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
Ahmadun Yosi Herfanda
Ladang Hijau (1980)
Sajak Penari (1990)
Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
Sembahyang Rumputan (1997)
Y.B Mangunwijaya
Burung-burung Manyar (1981)
Darman Moenir
Bako (1983)
Dendang (1988)
Budi Darma
Olenka (1983)
Rafilus (1988)
Sindhunata
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
Arswendo Atmowiloto
Canting (1986)
Hilman Hariwijaya
Lupus - 28 novel (1986-2007)
Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
Olga Sepatu Roda (1992)
Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
Dorothea Rosa Herliany
Nyanyian Gaduh (1987)
Matahari yang Mengalir (1990)
Kepompong Sunyi (1993)
Nikah Ilalang (1995)
Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
Gustaf Rizal
Segi Empat Patah Sisi (1990)
Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
Ben (1992)
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
Remy Sylado
Ca Bau Kan (1999)
Kerudung Merah Kirmizi (2002)
Afrizal Malna
Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
Dinamika Budaya dan Politik (1991)
Arsitektur Hujan (1995)
Pistol Perdamaian (1996)
Kalung dari Teman (1998)

Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
Widji Thukul
Puisi Pelo
Darman

Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
Ayu Utami
Saman (1998)
Larung (2001)
Seno Gumira Ajidarma
Atas Nama Malam
Sepotong Senja untuk Pacarku
Biola Tak Berdawai
Dewi Lestari
Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
Supernova 2.1: Akar (2002)
Supernova 2.2: Petir (2004)
Raudal Tanjung Banua
Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
Ziarah bagi yang Hidup (2004)
Parang Tak Berulu (2005)
Gugusan Mata Ibu (2005)
Habiburrahman El Shirazy
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Diatas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)
Andrea Hirata
Laskar Pelangi (2005)
Sang Pemimpi (2006)
Edensor (2007)
Maryamah Karpov (2008)
Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
Ahmad Fuadi
Negeri 5 Menara (2009)
Ranah 3 Warna (2011)
Tosa
Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
Melan Conis (2009)

sumber: wikipedia (kalo kurang bisa ditambah lagi ya.....thanks)

Baca Selengkapnya ....

Bahasa Indonesia 2: Cerpen

Posted by Unknown 0 comments
Keinginan dan Takdir Hidup
oleh: Eka Astra Wijayan

Sesekali Tria memandang jauh kearah barat, memperhatikan matahari yang setengah tenggelam dengan cahaya jingganya yang memukau, suara kereta api yang lalu-lalang membuat suasana semakin ramai, deretan penumpang dengan berbagai tujuan sedang menunggu waktu keberangkatan. Dan Tria hanya duduk menunggu pembeli yang datang membeli sesuatu yang mungkin mereka butuhkan saat berada dalam kereta nanti, seperti Tissue, Permen, Rokok, Antimo, serta makanan dan minuman kecil barangkali.
“ Mari Pak…Bu…Tissue-nya,..Permen …permen….rokok..rokok…Pak…mari silahkan beli.” Tawar Yon pada orang-orang yang lalu-lalang.
Hari itu, dagangan Tria hanya laku beberapa saja. Hari sudah beranjak malam, Tria melangkah keluar dari Stasiun tugu Jogja yang luas itu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat nenek tua yang renta sedang berjongkok di ujung pintu gerbang sambil meminta-minta.
“ Maturnuwun Ngger….terima kasih…simbah seharian ini belum makan.” Kata Nenek itu ketika menerima uang pemberian dari Tria.
“ Nggih Mbah…sama-sama, hanya sedikit rezeki dari saya, semoga bermanfaat untuk simbah.” Jawab Tria.
Uang hari ini yang hanya seberapa dari hasil Tria berjualan di Stasiun Tugu, telah Ia berikan kepada Nenek peminta-minta itu. Yang tersisa sedikit hanya cukup untuk makan malam ini saja.

Matahari bersinar dengan indahnya dari ufuk timur, menembus dinding anyaman bamboo milik Tria, sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran JalanA.M Sangaji, seorang anak berusia 16 tahun yang harus berjung untuk hidupnya setelah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya entah kemana. Tria bergagaas melaksanakan pekerjaanya sehari-hari, menjadi pedangan asongan. Berjalan dengan ringannya, diiringi senyum yang ramah, Sesekali Ia tampak melihat anak-anak yang memakai seragam sekolah, terlintas dibenaknya.
“Seandainya aku bisa sekolah seperti mereka.” Pandangannya lirih, perjuangannya saat ini adalah bagaimana tetap bisa bertahan hidup sebatangkara. Untuk bisa berjuang demi sesuap nasi, namun dalam hatinya, masih ada secercah harapan untuk dapat bersekolah lagi, setelah lebih dari 5 tahun Ia putus sekolah. Hampir Ia sampai di Stasiun Tugu, tepatnya menjajakan beberapa dagangannya, Ia harus berjalan cukup jauh untuk bisa sampai tempat tujuan. Semua itu Ia lakukan dengan ikhlas.
“ Pak,,,,Bu,,,Antimonya Pak,,,,Bu,,,,Aqua,,,,,Aqua,,,,,,Kacang, Susu, Permen…mari silahkan beli.” Seru Tria menjajakan barang dagangannya. Hingga beranjak siang barulah pembeli berdatangan. Hari ini dagangan lumayan laku. Tria berangkat berjualan pukul tujuh pagi dan kembali malam tak tentu, seperti itu setiap hari ia lakukan Ia harus tetap berjuang untuk tetap hidup di Jogja, sebuah kota yang cukup besar dengan penduduknya yang padat merayap. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar negeri berdatangan mengunjungi kota Jogja dengan segenap obyek wisatanya yang tak kalah menarik dengan kota-kota lain di Indonesia. Namun, tak begitu untuk Tria, baginya kota Jogja adalah medan peperangan, dimana Ia harus terus berjuang untuk tetap bertahan hidup sebatangkara di kota yang tidak kecil itu.
“ Dek beli rokoknya satu dek.” Seru seorang pembeli dari seberang tempat duduk Tria.
“ Nggih Pak,,,,,,,,sebentar.” Tria berlari kecil menghampiri.
“ Monggo Pak,,,,,,,,mau rokok yang mana ?. “
“ Yang ini saja.” Kata pembeli itu menunjuk rokok Jarum Super.
“ Ini Pak,,,,,, sembilan ribu saja.” Tria mengulurkan rokok pada pembeli itu.
“Ini uangnya, sisanya untuk kamu saja.” Kata si pembeli itu memberikan selembar uang sepuluh ribuan.
“ Matur nuwun nggih Pak,,,,,,,,terima kasih.” Jawab Tria girang. Hari ini begitu melelahkan bagi Tria, namun demikian Ia tetap bersemangat berdagang, Ia beristrahat sejenak di sebuah lorong kecil stasiun sembari memandang anak-anak pulang sekolah yang melewati Stasiun Tugu. Tria ingin sekali seperti mereka, bisa sekolah memiliki banyak teman. Namun, apalah daya. Takdir telah membawanya seperti ini. Kalau Ia boleh memilih, tentu Ia akan memilih hidup yang layak dan bisa bersekolah. Keinginannya terkalahkan oleh takdir yang berkata lain.
“ Suatu saat aku pasti bisa sekolah, entah itu harus menunggu lama.” Gumam Tria. Lalu Ia melanjutkan perjalanannya menjajakan barang dagangannya, Ia tak bisa menolak karena inilah sumber penghidupannya.
“ Mari Bu,,,,,,,,,Pak,,,,,,,,Mas,,,,Mbak,,,,permennya, antimo, aqua, rokok-rokok,silahkan beli.” Tria menjajakan dagangannya.
“ Tria ada Upacara Grebeg Kraton besok di alun-alun Utara setelah sholat Ied, kalau berdagang disana mungkin lumayan laku.” Beri tahu salah satu teman Tria yang bekerja sebagai loper Koran.
“ Benarkah, kalau begitu besuk pagi aku akan kesana, siapa tahu rezeki-ku lebih baik.” Jawab Tria berharap.
Pacara Grebeg Kraton Yogyakarta adalah upacara rutin yang diadakan selesai sholat Ied di alun-alun. Banyak yang menyempatkan untuk menyaksikan jalannya upacara tersebut. Tria ingin mencoba peruntungan berdagang disana, siapa tahu ada penghasilan yang lebih. Tria memang tak pernah menyerah, Ia melakukan apapun dengan ikhlas walaAupun lelah. Jalan hidup yang menuntutnya seperti ini. Tak ada yang dapat dijadikan pengantung hidupnya, hanya Ia sendiri yang harus berusaha.
“ Aku ingin sekolah lagi, tapi apakah bisa.”’ Itulah kata-kata Tria yang selalu Ia upcapkan tiap kali memandang segerombolan anak sekolah. Keinginan Tria untuk bersekolah sangatlah kuat, namun situasi memaksanya tuk urungkan keinginannya bersekolah lagi. Tapi tak mustahil kalau suatu saat ada kesempatan bersekolah lagi., selama masih ada kemauan. Dan Tria percaya itu.
Pagi sekali Tria sudah bergegas menuju Alun-alun Utara yogyakarta, mengenakan celana panjang, dipadu dengan atasan lengan panjang serta tak lupa Ia mengenakan kopiah. Karena ingin sekalian mengikuti sholat Ied disana. Ia tak lelah untuk mencoba peruntungan dimanapun, karena itukah sumber rezekinya hingga Ia bisa bertahan hidup seperti sekarang ini. Hingga siang Ia masih menjajakan dagangannya. Sesekali Ia beristirahat sejenak dibawah pohon, dibawah pohon beringin yang berada ditengah lapangan alun-alun yang cukup luas itu.
“sampai kapan aku akan seperti ini, ini bukan mau-ku, bukan keinginanku, aku ingin seperti anak-anak lain pada umumnya, mempunyai orang tua yang utuh, bisa bersekolah, menikmati masa remaja,. Tapi kenapa takdir seperti ini.” Ratap Tria ketika sedang beristirahat.
Ia harus tetap berjuang, suatu saat Ia pasti dapat menuntut ilmu lagi, entah itu harus mengulang belajar dari awal lagi, karena menuntut ilmu tak mengenal waktu ataupun usia, mungkin dengan seperti ini, Tria bisa belajar, belajar mengerti akan takdir hidup, yang tak selalu selaras dengan keinginan. Ia mengerti, inilah kehidupannya, kehidupan yang harus senantiasa Ia jalani, entah sampai kapan.

-SELESAI-



Baca Selengkapnya ....
TEMPLATE CREDIT:
Tempat Belajar SEO Gratis Klik Di Sini - Situs Belanja Online Klik Di Sini - Original design by Bamz | Copyright of Dunia Pendidikan.